Tampilkan postingan dengan label Kelompok 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelompok 4. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2012

HARI PAHLAWAN, AJANG BERPATRIOTISME



Spada...Spada... TETRA CLUB of NINE BEST hadir kembali...
Kalo Bulan lalu kita udah membahas tentang Hari Jadi Kota Pontianak yang ke-241. Bulan ini berhubung masih dalam nuansa hari Pahlawan, yuk kita membahas tentang Hari Pahlawan dan Sikap Kepahlawanan? Hm Hm.. sedikit info nih.. untuk memperingati hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November kemarin, sekolah kami juga mengadakan Upacara lho..
Sebelumnya....Pasti semua sudah tahu kan kalau setiap 10 November kita memperingati pahlawan.?
Untuk mengingat kembali, yuk kita review sejarah peristiwa 10 November 1945 dan juga pada postingan kami kali ini, kami juga ingin menampilkan bagaimana sikap kepahlawanan yang dapat kita tunjukkan sebagai seorang pelajar. Selamat Membaca ....



PERTEMPURAN 10 NOVEMBER 1945
Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia
Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan tanpa syarat tesebut, Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan asing tersebut, Soekarno kemudian memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Kedatangan Tentara Inggris & Belanda
Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya


Hotel Oranye di Surabaya tahun 1911.
Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.
Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Pengibaran bendera Indonesia setelah bendera belanda berhasil disobek warna birunya di hotel Yamato
Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.
Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.
Kematian Brigadir Jenderal Mallaby

Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby
Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.
Perdebatan tentang pihak penyebab baku tembak

Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (Labour Party). Pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen Inggris (House of Commons) meragukan bahwa baku tembak ini dimulai oleh pasukan pihak Indonesia. Dia menyampaikan bahwa peristiwa baku tembak ini disinyalir kuat timbul karena kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak tersebut tidak mengetahui bahwa gencatan senjata sedang berlaku karena mereka terputus dari kontak dan telekomunikasi. Berikut kutipan dari Tom Driberg:

"... Sekitar 20 orang (serdadu) India (milik Inggris), di sebuah bangunan di sisi lain alun-alun, telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak tahu tentang gencatan senjata. Mereka menembak secara sporadis pada massa (Indonesia). Brigadir Mallaby keluar dari diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian besar, dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-alun menjadi bergolak lagi. Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan serdadu India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan Bren dan massa bubar dan lari untuk berlindung; kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas bahwa ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan lagi, perundingan gencatan senjata sebenarnya telah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh menit sampai setengah jam setelah itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas dalam mobilnya-meskipun (kita) tidak benar-benar yakin apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobilnya; yang meledak bersamaan dengan serangan terhadap dirinya (Mallaby). Saya pikir ini tidak dapat dituduh sebagai pembunuhan licik... karena informasi saya dapat secepatnya dari saksi mata, yaitu seorang perwira Inggris yang benar-benar ada di tempat kejadian pada saat itu, yang niat jujurnya saya tak punya alasan untuk pertanyakan ... " 
10 NOVEMBER 1945


Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.
Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat TKR juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.
Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal maupun terluka.

Bung Tomo di Surabaya, salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati. Foto terkenal ini bagi banyak orang yang terlibat dalam Revolusi Nasional Indonesia mewakili jiwa perjuangan revolusi utama Indonesia saat itu.[5]
Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.
Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) shingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.
Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. . Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 - 2000 tentara.  Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.


Sebagai Pelajar, apakah kita tidak bisa bersikap pahlawan seperti para pahlawan pada zaman dahulu?
Bisa! Tentu Bisa! Namun....berhubung sekarang Indonesia sudah bebas dari belenggu penjajahan, sikap Kepahlawanan/Patriotisme dapat kita wujudkan dalam bentuk yang lain.
Mau tahu apa saja yang dapat kita lakukan ? Mari simak penjelasan kami berikut ini.

SIKAP PATRIOTISME
 
Selain memiliki sikap kepahlawanan para pejuang bangsa kita juga memiliki sikap patriotisme. Apa yang dimaksud dengan patriotisme? Patriotisme artinya cinta tanah air.Para pahlawan pendahulu kita berjuang mengusir penjajah tentunya didasari oleh rasa cintatanah air. Mereka tidak rela bangsanya diinjak-injak oleh para penjajah. Seperti yang sudahdicontohkan oleh Kapitan Pattimura dalam riwayat di atas. Sikap patriotisme tidak hanyadimiliki oleh para pahlawan bangsa. Sebagai warga negara yang baik kita pun harusmemiliki sikap patriotisme. Siapa lagi yang mencintai bangsa ini kalau bukan kita, warganegara Indonesia? Perjuangan kita saat ini sudah bukanlah perjuangan melawan para penjajah. Setelah merdeka, justru tantangan semakin besar. Kita saat ini mesti berjuangmelawan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Sikap patriotisme dapatdiwujudkan dalam banyak hal. Wujud sikap patriotisme antara lain sebagai berikut:
1. Mencintai dan menggunakan produk dalam negeri
Mencintai dan menggunakan produk-produk dalam negeri merupakan bagian dari cintatanah air. Dengan menggunakan produk dalam negeri berarti kita memberi keuntungankepada warga Indonesia sendiri. Baik pembuatnya ataupun pedagangnya. Berarti jugamemberi keuntungan kepada negara. Sebenarnya produk-produk dalam negeri tak takkalahdengan produk luar negeri. Bahkan banyak produk-produk asli buatan Indonesia yangditiru orang luar negeri.
2. Tidak merusak lingkungan hidup
Lingkungan hidup haruslah dijaga kelestariannya. Merusaknya berarti kita tidak mencintaitanah air. Lingkungan hidup yang rusak akan merugikan manusia sendiri.
3. Ikut serta memelihara fasilitas umum
Fasilitas umum merupakan sarana yang disediakan oleh pemerintah untuk kebutuhanmasyarakat. Contohnya adalah telepon umum, jembatan, halte, kereta api dan lain-lainnya.Jika kita merusak fasilitas umum akan merugikan orang lain dan negara. Kita sendiri jugatidak dapat menggunakannya lagi.
4. Ikut serta dalam pembangunan bangsa
 Negara kita harus terus membangun agar lebih maju dan kehidupan rakyatnya lebih baik.Bila kita ingin mencintai tanah air, maka kita harus ikut serta dalam pembangunan. Ikutserta dalam pembangunan bisa diwujudkan dengan taat membayar pajak, menjadi pegawaiyang baik, dan sebagainya.
5. Mentaati peraturan yang ada
Peraturan dibuat agar masya-rakat tertib dan nyaman. Jika kita melanggar peraturan akanmerugikan diri kita sendiri. Bahkan orang lain dan negara juga akan dirugikan. Berarti jikakita melanggar peraturan berarti kita tidak cinta tanah air.
6. Melestarikan budaya bangsa
Budaya bangsa merupakan kekayaan bangsa. Menjaga keles-tarian budaya bangsa berartimencintai bangsa dan tanah air. Kita harus bangga memiliki budaya bangsa yang beragamdan unik. Orang asing saja banyak yang mengagumi budaya bangsa kita. Termasuk melestarikan budaya bangsa adalah berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.Contoh sikap patriotisme dalam kehidupan sehari-hari sangatlah banyak. Kamu bisamemulai dari hal yang sederhana. Sebagai siswa kamu dapat menunjukkan sikap patriotisme dengan cara belajar yang rajin. Sebab dengan belajar yangrajin berarti kamu sudah ikut serta dalam perjuangan memberantas kebodohan danketerbelakangan. Kamupun dapat mewujudkan sikap pariotisme dengan tidak membuangsampah di sembarang tempat. Dapatkah kamu memberi contoh lain dari sikap patriotismeyang dapat kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari?
CARA MENGHARGAI JASA PAHLAWAN


Mungkin, teman-teman banyak yang belum sadar, bahwa Jasa para pahlawan bangsa bagi bangsa kita sangatlah besar. Mereka telah berjuang sepenuh jiwa raga untuk bangsa kita. Banyak di antara mereka yang gugur pada saat berjuang membela bangsa. Cita-cita mereka hanya satu, yakni terbebas dari belenggu penjajah. Mereka tidak sedikitpun mengharapkan imbalan. Oleh karena itu jasa para pahlawan bangsa kita haruslah kita hargai dengan jiwa besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Bagaimana cara kita menghargai jasa para pahlawan bangsa kita? Berikut ini adalah beberapa contoh cara menghargai jasa para pahlawan bangsa:
1. Mengabadikan foto dan nama pahlawan pada mata uang, nama jalan, bandara dan rumahsakit
2. Membuatkan monumen suatu peristiwa penting atau patung pahlawan.
3. Memberikan gelar dan tanda jasa
4. Mengisi kemerdekaan dengan pembangunan dan hal-hal yang positif 
5. Meneladani sikap dan perjuangan para pahlawan
6. Mendoakan arwah para pahlawan agar diterima di sisi Tuhan
Di antara cara menghargai jasa para pahlawan bangsa, yang paling penting adalahmeneladani sikap dan perjuangannya. Jasa para pahlawanmemang harus dikenang. Namun dikenang saja tidaklah cukup. Karena perjuangan belumlah selesai. Para pahlawan bangsa yang telah gugur tentu akan bangga bila perjuangan mereka diteruskan oleh generasi saat ini. Agar dapat meneruskan perjuanganmereka, kita pun harus meneladani sikap kepahlawanan dan patriotisme mereka dalamkehidupan sehari-hari.

Untuk mencapai Indonesia yang sejahtera sudah sepatutnya kita tidak melupakan jasa pahlawan yang telah rela mengorbankan jiwa dan raganya demi Indonesia, seperti pepatah mengatakan "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya".

Posting By : Kelompok 4


Kamis, 18 Oktober 2012

SELAMAT ULANG TAHUN KOTA PONTIANAK !!!



Selamat Ulang Tahun !! Selamat Ulang Tahun !! Selamat Ulang Tahun Pontianak ! Selamat Ulang Tahun...hihihi
Selamat Ulang Tahun Kota Pontianak yang ke-241 Tahun..
Kota Pontianak kita yang tercinta ini, sudah tua juga, ya! Lebih dari 2 abad malah...ckckck
241 tahun itu, bukanlah waktu yang singkat. Seiring bertambahnya usia, berkembangnya zaman, derasnya arus globalisasi, kota Pontianak telah banyak berubah dan menampakkan wajah barunya.
Sebelum kita bahas perayaan-perayaan dalam rangka hari jadi Kota Pontianak, yuk kita lihat sejarah singkat berdirinya Kota Pontianak.
SEJARAH BERDIRINYA KOTA PONTIANAK
Kota Pontianak adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Barat di Indonesia.
Kota ini terkenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat monumen atau Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang tepat dilalui garis lintang nol derajat bumi. Selain itu Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas yang adalah sungai terpanjang di Indonesia. Sungai Kapuas membelah kota Pontianak , simbolnya diabadikan sebagai lambang Kota Pontianak.
Asal nama Pontianak dipercayai bermakna Kuntilanak atau hantu perempuan. Konon, ketika Syarif Abdurrahman Alkadrie tiba di daratan Pontianak , ia bertemu dengan hantu kuntilanak dan berhasil mengusirnya.
Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah Pendiri dan Sultan pertama Kerajaan Pontianak. Beliau dilahirkan pada tahun 1142 Hijriah / 1729/1730 M, putra Al Habib Husin, seorang penyebar ajaran Islam yang berasal Arab.
Tiga bulan setelah ayahnya wafat pada tahun 1184 Hijriah di Kerajaan Mempawah, Syarif Abdurrahman bersama dengan saudara-saudaranya bermufakat untuk mencari tempat kediaman baru. Mereka berangkat dengan 14 perahu Kakap menyusuri Sungai Peniti. Waktu dzuhur mereka sampai di sebuah tanjung, Syarif Abdurrahman bersama pengikutnya menetap di sana . Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Kelapa Tinggi Segedong.
Namun Syarif Abdurrahman mendapat firasat bahwa tempat itu tidak baik untuk tempat tinggal dan ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mudik ke hulu sungai. Tempat Syarif Abdurrahman dan rombongan sembahyang dhohor itu kini dikenal sebagai Tanjung Dhohor.
Ketika menyusuri Sungai Kapuas, mereka menemukan sebuah pulau, yang kini dikenal dengan nama Batu Layang, dimana sekarang di tempat itulah Syarif Abdurrahman beserta keturunannya dimakamkan. Di pulau itu mereka mulai mendapat gangguan hantu Pontianak . Syarif Abdurrahman lalu memerintahkan kepada seluruh pengikutnya agar memerangi hantu-hantu itu. Setelah itu, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Kapuas.
Menjelang subuh 14 Rajab 1184 Hijriah atau 23 Oktober 1771, mereka sampai pada persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Setelah delapan hari menebas pohon di daratan itu, maka Syarif Abdurrahman lalu membangun sebuah rumah dan balai, dan kemudian tempat tersebut diberi nama Pontianak. Di tempat itu kini berdiri Mesjid Jami dan Keraton Kadariah.

Akhirnya pada tanggal 8 bulan Sya’ban 1192 Hijriah,bertepatan dengan hari isnen dengan dihadiri oleh Raja Muda Riau, Raja Mempawah, Landak, Kubu dan Matan, Syarif Abdurrahman dinobatkan sebagai Sultan Pontianak dengan gelar Syarif Abdurrahman Ibnu Al Habib Alkadrie.
Dibawah kepemimpinannya kerajaan Pontianak berkembang sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang cukup disegani.
ARTI GAMBAR DAN LAMBANG
Kota Pontianak didirikan dengan permohonan Ridho Tuhan Yang Maha Esa pada tanggal 23 Oktober 1771 dibawah Garis Khatulistiwa didaerah tiga cabang sungai, mempunyai hasil dasar Karet dan Kelapa dengan sifat – sifatnya yang terpuji, menuju masyarakat adil dan makmur berlandaskan Pancasila sesuai dengan Falsafah Negara Republik Indonesia.
Lambang Kota Pontianak digambarkan sebagai berikut :
- Bentuk Lambang berupa bulatan Kubah
- Pada sisi sebelah kanan 23 lembar daun Karet dan di sisi kiri 10 lembar daun Kelapa
- Diantara daun – daun tersebut menyinar dari bawah keatas 5 sinar dan pangkal sinar ditulis angka 1771
- Ditengah – tengah melintang garis Khatulistiwa diatas sungai bercabang tiga
- Tulisan KOTA PONTIANAK membentang dari pangkal daun Karet sampai kepangkal daun Kelapa
Bentuk dari keseluruhan Lambang Daerah ialah bulatan Kubah bertumpu pada pita bertulisan KOTA PONTIANAK, yang berarti KOTA PONTIANAK didirikan dengan ditandai berdirinya sebuah Masjid sebagai lambang Keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
DARI SUDUT WARNA DAN MAKNA
Warna dasar kuning emas melambangkan Keagungan
Hijau daun melambangkan kesuburan
Biru laut melambangkan keyakinan
Merah melambangkan keberanian
Putih melambangkan kesucian
Hitam menunjukkan Garis Khatulistiwa
Bulatan Kubah melambangkan harapan
Lima garis sinar berarti Dasar Negara Pancasila
Garis melintang hitam ditengah – tengah maksudnya Kota Pontianak terletak tepat pada Garis Khatulistiwa
Daun karet dan kelapa melambangkan usaha pokok masyarakat untuk mencapai kemakmuran.
Sungai bercabang tiga melambangkan Kota Pontianak dibelah sungai bercabang tiga.
Daun karet 23 lembar dan daun kelapa 10 lembar berarti berdirinya Kota Pontianak pada tanggal 23 Oktober Angka 1771 adalah Tahun Masehi berdirinya Kota Pontianak. Tulisan Kota Pontianak adalah kedudukan Pemerintah Daerah Kotamadya Pontianak.

JULUKAN KOTA PONTIANAK
Kota Pontianak kita ini, punya beberapa julukan lho, antara lain :
1.      Kota Bersinar, kalau pernah lihat, tulisan ini terdapat di gerbang antara Kota Pontianak dan Kab. Kubu Raya, yang berbunyi “Pontianak Kota Bersinar”
2.      Kota Khatulistiwa, ya apalagi kalau bukan? Kota Pontianak kan salah satu kota didunia yang dilewati oleh garis khatulistiwa nol derajat. Di Pontianak juga terdapat tugu Khatulistiwa yang terletak di Kec. Pontianak Utara
3.      Kota Seribu Parit, julukan ini diberikan karena di Pontianak terdapat banyak parit-parit (parit= sungai yang lebih kecil). Namun, meskipun dijuluki Kota Seribu Parit, tak lantas membuat Kota Pontianak terbebas dari banjir.

PERAYAAN SEPUTAR HARI JADI KOTA PONTIANAK YANG KE-241
Untuk menyemarakkan hari jadi Kota yang dikenal dengan Kota Khatulistiwa ini, Tahun ini ada beberapa event spesial yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kota Pontianak. Kegiatan ini diberi nama "PONTIANAK OKTOBER FESTIVAL" dimana didalamnya ada sekitar 22 kegiatan dalam rangka menyemarakkan hari jadi Kota Pontianak .
Berikut, 5 Perayaan PONTIANAK OKTOBER FESTIVAL yang spesial versi F-Vanty 219Tha :
  
                        1    Festival Arak-arakan Pengantin

Festival arak-arakan pengantin diikuti oleh ratusan pasang pengantin. Kegiatan ini berpusat disudut Jalan Gajah Mada. Pertunjukan langka ini disaksikan oleh ribuan orang. Mereka ini berasal dari 17 regu, utusan-utusan semua kecamatan yang ada di Kota Pontianak. Tentu saja mereka semua menggunakan baju adat, laki-laki pakai teluk belanga, sedang wanita berbaju kurung.

Cukup menarik adalah tradisi Antaran. Barang-barang Antaran biasanya terdiri dari tiga unsur, yaitu; pangan, sandang, dan papan. Oleh para peserta, barang-barang itu dihias sedemikian rupa. Ada kain yang dilipat hingga menyerupai boneka dinosaurus, ada yang mengubah telur menjadi wayangan, dan masih banyak kreatifitas lainnya. Bahkan ada merangkai celana dalam dan bra menjadi bebek-bebekan. Sementara itu, Bunyi tahar, rebana, dan tanjidor saling bersahutan seakan meramaikan suasana perjalanan dari Gedung Graha Pena Pontianak Post menuju Warung Kopi Winny.
Biarpun tajuknya; Arak-Arakan Pengantin, ternyata banyak atraksi dan kesenian yang terkandung di dalamnya. Di depan dewan juri hal-hal itu dipamerkan. Hampir setiap regu unjuk kelihaiannya dalam berpantun. Budaya berpantun memang adalah bagian dari acara upacara pernikahan Melayu Pontianak. Sebagian kelompok menampilkan atraksi pencak silat yang mengundang decak kagum. Aslinya, makna dari upacara arak-arakan ini adalah sebagai media pemberitahuan kepada seluruh masyarakat sekitar, bahwa salah seorang dari warganya telah sah menjadi pasangan suami-isteri. Di samping itu, tujuannya juga untuk memberitahukan kepada seluruh lapisan masyarakat agar turut meramaikan perkawinan tersebut. Begitu panjangnya prosesi bisa dimaknai agar kedua mempelai tidak menganggap remeh sebuah pernikahan.
 
            2.   Festival Drumband dan Fashion Road SD dan SMP
Festival ini diikuti oleh belasan unit DrumBand beserta team Fashion Road SD dan SMP sekota PONTIANAK dan Kabupaten Kubu Raya berpusat di Jalan Gajah Mada. Festival ini berhasil mengundang daya tarik wisatawan lokal maupun nusantara. Tema lomba ini pun berbeda-beda untuk tingkat SD,SMP bertema HOROR.
Tema horor bukan membuat warga menjadi takut dengan hantu-hantu tersebut, melainkan gelak tawa yang ada, karena ada beberapa anak SD yang menggunakan kostum tuyul sembari mengibar-ngibarkan uang kertas sepuluh hingga lima puluh ribuan. 






3         3.    International Borneo Sumpit Tournament (IBOST)

 
Kegiatan yang menurut Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kementrian Pariwisata dan Ekononomi Kreatif bapak M. Farid sebagai kegiatan yang menggabungkan dua unsur yakni olahraga dan wisata ini juga merupakan suatu kegiatan dalam rangkaian peringatan hari jadi kota Pontianak ke 241 Tahun.
Acara ini merupakan kerjasama Kementrian Pariwisata dan Ekononomi Kreatif dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat serta Dinas Pariwisata Kota Pontianak dalam upaya meningkatkan promosi pariwisata Kalimantan Barat dan pelestarian tradisi budaya sumpit sebagai cabang olahraga nasional serta kebudayaan nasional dan akan digelar mulai 5 Oktober hingga 7 Oktober 2012. Kegiatan ini diikuti oleh beberapa provinsi Indonesia dan beberapa negara tetangga.
4.      Festival Layang-Layang

Gelar Permainan Rakyat Layang-Layang yang dilaksanakan pada hari Selasa dan Rabu (16 – 17 Oktober 2012) di Kabon Sajoek PSP ini bertujuan mengakomodir keinginan masyarakat khususnya masyarakat pecinta layang-layang hias agar dapat bermain dan menyalurkan kreativitasnya di kota Pontianak. Kota Pontianak pada saat ini memang melarang masyarakat untuk bermain layang-layang yang menggunakan tali kawat karena dapat berbahaya bagi masyarakat dan dapat merusak jaringan listrik PLN. Tentu masyarakat Kota Pontianak masih ingat tewasnya pengendara motor akibat terlilit tali layang-layang yang terbuat dari kawat. Jadi, kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Pontianak, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pontianak disambut baik oleh masyarakat.
Untuk lomba layang-layang hias itu sendiri terbagi menjadi dua kelompok, yaitu layang-layang hias dua dimensi dan tiga dimensi. Dalam kegiatan yang didukung 0leh PLN kalbar ini, terdapat 8 grup yang terdiri dari 28 peserta dengan 35 buah layang-layang dua dimensi dan 15 buah layang-layang jenis tiga dimensi yang ikut ambil bagian.
5.      Lomba Sampan
 
Lomba ini menjadi rangkaian Semarak Pontianak 241 tahun yang diikuti 70 grup sampan laki-laki dan 25 grup sampan wanita yang mayoritasnya ibu-ibu.Saat ditanyai mengenai kawasan Sungai Jawi ini, Walikota Pontianak mengajak masyarakat untuk memperhatikan dan melestarikan kegiatan-kegiatan olahraga tradisional ,seperti lomba sampan.Lalu ia mengatakan juga bahwa nantinya akan ditindaklanjuti oleh persatuan dayung seluruh Indonesia yang berada di Pontianak. "Sungai Jawi ini cocoknya kano, kalau bidar, bidar itu sungai besar", ungkap Pak Walikota. Lebih lanjut, belia ingin Sungai Jawi ke depannya menjadi aset baru wisata di Kota Pontianak ini.
Meskipun hujan deras kembali melanda, perlombaan yang menjadi objek wisata baru di Kota Pontianak ini, tetap berlanjut kendatipun peserta harus berbasah-basahan.














Posting By : Kelompok 4